Saturday, April 14, 2012

Masihkah, Fai?

Hi, Fai.
Apa kabar?
Apa kamu masih terjebak dalam dilema lebih baik tidak menikah daripada menikah tanpa cinta? Walaupun kamu ngerasa nyaman banget dengan seseorang, bersamaan dengan itu kamu juga meragukan kadar cinta yang kamu miliki?
Kenapa, Fai?
Kenapa kamu bisa memiliki perasaan nyaman tanpa mampu menumbuhkan cinta?

Fai,
Kenapa kamu nggak pernah mau bercermin dari aku? Aku adalah contoh hidup dari dilema yang sedang kamu hadapi.
Berbeda dengan kamu, saat memutuskan pacaran, aku hanya bermodalkan rasa suka. Kemudian, aku memutuskan menikah dengan modal logika.
Kamu tahu itu, kan, Fai?
Tapi, apa kamu tahu kalau perasaan nyaman yang aku rasakanlah yang menjadi salah satu hal logis yang menurutku perlu aku pertimbangkan.
Kenapa?
Nggak tau, Fai.
Tapi, saat itu, aku berpikir cinta yang menggebu-gebu bisa membutakan. Tapi, perasaan nyaman adalah pupuk cinta itu sendiri

Tapi...
Semakin dekat dengan hari pernikahan, aku malah semakin sering mendengar orang melontarkan ucapan seperti ini: "Emang enak kawin?" atau "Nikmati masa bulan madu kamu nanti karena setelah itu... welcome to the hell. Apalagi kalau kamu langsung hamil" Dan yang paling seram adalah pernyataan Mbak Ami yang bilang, "Gue menjalani pernikahan gue, bukan menikmatinya."
Menjalani, Fai.
Seolah-olah, pernikahan hanya memberikan dua pilihan bagi kita: bercerai atau terpaksa menjalaninya. Apalagi, kalau keburu punya anak.

Fai,
Waktu itu aku takut banget. Aku pikir, ngapain terikat dalam sebuah hubungan seumur hidup kalau kita nggak bisa menikmatinya? Menurutku, itu adalah bentuk lain dari bunuh diri.
Tapi, beberapa orang bilang, "That's life, Dear."
Yup, Fai, that's life.
Dan, aku mau enjoying my life.

Apa itu mungkin terjadi dalam pernikahan, Fai?
Atau, pertanyaan yang lebih tepat adalah, apakah pernikahan bisa dijadikan sebagai media untuk menemukan kabahagiaan?
Mungkin.
Kalau nggak, kenapa hampir seluruh penduduk bumi kawin?
Atau, sebenarnya, manusia sebegitu bodohnya hingga dengan sadar membiarkan dirinya masuk ke dalam perangkap yang sejak zaman nenek moyang telah diketahui sebagai penjara hidup. Apalagi, untuk kaumku, Fai. Perempuan.

Hmmm...
Kayaknya, aku tahu apa yang timbul di dalam kepala kamu saat membaca dua paragraf terakhir dari tulisanku di atas. Sebuah pertanyaan. Kenapa aku tetap memutuskan menikah?
Jawabannya simpel, Fai.
Karena aku nggak punya nyali untuk membatalkan sebuah rencana yang melibatkan semua orang yang berkuasa mengeluarkan aku dari daftar silsilah keluarga dengan alasan: TELAH MENCORENG NAMA BAIK KELUARGA.
Well, runaway bride cuma bisa terjadi di Amerika, kan, Fai?

Jadi...
Kalau rasa nyaman, bibit, bebet, dan bobot adalah pertimbangan logis pada awalnya, kesadaran akan efek dari tindakan membatalkan pernikahan menjadi pertimbangan logis berikutnya.
So, here I am, Fai.
Dengan kesadaran, aku telah mengubah status diriku di KTP dari lajang menjadi kawin.

Dan, aku mulai menyiapkan diriku untuk masuk ke dalam fase paling membosankan dalam hidupku, Fai.
Menjadi seorang istri.
Seperti nasihat Mbak Ami, aku pun berusaha meyakini diriku untuk menjalaninya. Bukan menikmatinya. "Nggak usah muluk-muluk." Begitu saran tambahan yang dilontarkan Mbak Ami. "Udah bagus nggak cerai atau jadi korban kekerasan dalam rumah tangga."
Anyway...
Aku menikah berdasarkan logika, kan?

Tapi, ternyata, dalam perjalanannya, aku menemukan sesuatu yang menakjubkan telah terjadi, Fai.

Bahwa,
I'm in love with my husband... saat menyadari kalau beberapa kali dia telah ngebiarin aku tetap tidur saat dia sudah bangun pagi. Dia cuci muka, terus bikinin aku teh hangat.

I'm in love with my husband... saat aku lagi masak dan tanpa bertanya dia langsung ngambil beras, mencucinya, dan masak nasi di rice cooker.

I'm in love with my husband... saat aku yang nggak bisa masak tetap ngotot nyoba masak buat dia. Aku mencoba masakan dengan bahan instan, seperti, sosis, chicken nugget, daging asap, kentang goreng, mi instan, bahakan sup asparagus, yang tnggal dicemplungin di air mendidih. Kemudian, dia komentar, "Aku seneng makan kenyang, tapi istriku nggak usah capek. Ternyata, orang bule emang pintar, ya. Mereka nyiptain masakan siap saji dan siap diangetin doang. Soalnya, aku butuh istri bukan cuma buat masak doang."

I'm in love with my husband... saat pagi sebelum berangkat kerja dia bilang, "Biar aku yang nyuci jeans dan semua pakaian yang berat. Kamu nyuci yang ringan-ringan saja, ya."

I'm in love with my husband... karena setiap akhir bulan dia transfer semua gajinya ke rekeningku dan bilang, "Aku, tuh, boros banget. Makanya, kamu yang ngatur keuangan kita, ya." Dan saat aku tunjukin jumlah uang tabungan di bank, dia langsung tertegun dan bertanya, "Kamu nabung sebanyak ini?" Raut mukanya terlihat sedih saat dia bilang, "Kamu boleh, kok, belanja, beli baju atau melakukan sesuatu. Jangan hanya dipakai buat kebutuhan sehari-hari dan sisanya ditabung. Aku, kan, senang kalau bisa ngebeliin kamu barang-barang yang kamu suka."

I'm in love with my husband... saat dia ngajak aku beli ponsel baru, tapi aku tolak dengan alasan baru membeli laptop dan itu berarti tabungan berkurang. Terus, dia bilang, "Aku sedih nggak bisa beliin istriku ponsel baru yang mahal."

I'm in love with my husband... saat beberapa orang pria didekat rumah sempat gangguin aku, reaksi dia adalah mencari orang keamanan kompleks dan bilang, "Gue nggak mau ada siapa pun yang ganggu istri gue. Kalo elo nggak bisa menyelesaikan ini dengan cara lo, gue akan menyelesaikan ini dengan cara gue."

I'm in love with my husband... saat aku melihat hasil test pack-ku yang kesejuta kalinya dan berkata, "Aku gagal hamil lagi." Dia ketawa sambil ngejitak kepalaku. Kemudian, bilang, "Kita coba buat anak lagi, yuk?"

I'm in love with my husband... and I want to continue in love with him in many ways.

Fai,
Rasa nyaman itu sudah berubah menjadi rasa cinta!
Padahal, suamiku nggak pernah ngasih candlelight dinner,
atau ngasih aku bunga,
atau ngasih aku puisi cinta,
atau ngasih aku kartu Valentine yang romantis,
atau ngasih aku berlian,
atau ngasih aku surprise dengan ngajak nonton opera.
Dia cuma bikinin aku teh,
nyuci celana jeans,
nyuci beras,
atau percayain uangnya ke aku.

Tapi, kata Mbak Ami, "Jelas aja. Elo, kan baru kawin dua tahun. Coba, deh, kalo udah kawin selama lima tahun. Gue pengin dengar komentar lo."
Fai,
Masa, sih, suamiku nggak mau bikinin aku teh setelah lima tahun?
Masa, sih, suamiku nggak mau nyuci jeans setelah lima tahun?
Masa, sih, suamiku nggak mau nyuci beras setelah lima tahun?
Masa, sih, suamiku nggak mau percayain uangnya ke aku setelah lima tahun?
Atau
masa, sih, aku nggak bisa menghargai hal-hal kecil yang dia lakukan setelah lima tahun?

Marriages maybe made in heaven,
but a lot of the details have to be worked out here on earth.
Dan, di bumi,
segalanya adalah sesuatu yang nyata, Fai.
Bahkan, cinta.
Seperti dialog Meryl Streep dalam salah satu adegan film Prime, "Love is Work."
Perlu sebuah usaha untuk mencintai.
Perlu sebuah usaha untuk merasa jatuh cinta
Perlu sebuah usaha untuk bisa dicintai.
Tapi, menurutku, yang paling penting adalah, perlu sebuah usaha untuk bisa menghargai.
So, apa sih, cinta?
Kamu bisa mengartikan cinta dengan apa saja, Fai.
Tapi, satu yang harus kamu sadari, cinta bisa datang dari hal yang sangat sederhana.

Bagiku, cinta adalah... when your man look at you as a person.
Not a partner, not a wife, not a mother of his child, not even a woman.
But as person.
Kalau kita melihat seseorang sebagai "seseorang", itu berarti kita akan memberi penghargaan akan segala perbedaan yang ada di antara diri kita dan dirinya.

Fai,
Aku menikah tanpa cinta, Tapi, dalam perjalanannya, suamiku telah berhasil membuatku jatuh cinta karena aku merasa dicintai.
Karena aku merasa dibiarkan menjadi diriku yang berbeda dengann dirinya.
Karena aku merasa dia menghargai, bahkan untuk sekobokan beras yang aku cuci untuknya.

Fai,
Apakah aku nggak bisa membuat suamiku jatuh cinta denganku karena dia merasa dicintai?
Karena dia merasa diberi ruang, bahkan untuk meragukan perasaannya untukku?
Karena aku menghargai dirinya yang merasa nyaman denganku dan hanya merasa nyaman?

Fai,
Mungkin, sesekali, kamu harus mencoba untuk berhenti melogikakan cinta.
Mungkin, sebaiknya, kamu belajar manikmatinya saja.
Dan, terutama, membiarkannya dia datang menyapa hatimu.
Seperti yang aku lakukan selama dua tahun ini dalam perjalanan perkawinan kita.


Happy anniversary, Faizan.


Love,
Adita


— Riri Sardjono, Kepada Cinta pg. 155-166

Kepada Kamu dengan Penuh Kebencian

Kepada kamu,
dengan penuh kebencian.

Aku benci jatuh cinta. Aku benci merasa senang bertemu lagi dengan kamu, tersenyum malu-malu, dan menebak-nebak, selalu menebak-nebak. Aku benci deg-degan menunggu kamu online. Dan di saat kamu muncul, aku akan tiduran tengkurap, bantal di bawah dagu, lalu berpikir, tersenyum, dan berusaha mencari kalimat-kalimat lucu agar kamu, di seberang sana, bisa tertawa. Karena, kata orang, cara mudah membuat orang suka denganmu adalah dengan membuatnya tertawa. Mudah-mudahan itu benar.

Aku benci terkejut melihat SMS kamu nongol di inbox-ku dan aku benci kenapa aku harus memakan waktu begitu lama untuk membalasnya, menghapusnya, memikirkan kata demi kata. Aku benci ketika jatuh cinta, semua detail yang aku ucapkan, katakan, kirimkan, tuliskan ke kamu menjadi penting, seolah-olah harus tanpa cacat, atau aku bisa jadi kehilangan kamu. Aku benci harus berada dalam posisi seperti itu. Tapi, aku tidak bisa menawar, ya?

Aku benci harus menerjemahkan isyarat-isyarat kamu itu. Apakah pertanyaan kamu itu sekadar pancingan atau retorika atau pertanyaan biasa yang aku salah artikan dengan penuh percaya diri? Apakah kepalamu yang kamu senderkan di bahuku kemarin hanya gesture biasa, atau ada maksud lain, atau aku yang-sekali lagi-salah mengartikan dengan penuh percaya diri?

Aku benci harus memikirkan kamu sebelum tidur dan merasakan sesuatu yang bergerak dari dalam dada, menjalar ke sekujur tubuh, dan aku merasa pasrah, gelisah. Aku benci untuk berpikir aku bisa begini terus semalaman, tanpa harus tidur. Cukup begini saja.

Aku benci ketika kamu menempelkan kepalamu ke sisi kepalaku, saat kamu mencoba untuk melihat sesuatu di handycam yang sedang aku pegang. Oh, aku benci kenapa ketika kepala kita bersentuhan, aku tidak bernapas, aku merasa canggung, aku ingin berlari jauh. Aku benci aku harus sadar atas semua kecanggungan itu…, tapi tidak bisa melakukan apa-apa.

Aku benci ketika logika aku bersuara dan mengingatkan, “Hey! Ini hanya ketertarikan fisik semata, pada akhirnya kamu akan tahu, kalian berdua tidak punya anything in common,” harus dimentahkan oleh hati yang berkata, “Jangan hiraukan logikamu.”

Aku benci harus mencari-cari kesalahan kecil yang ada di dalam diri kamu. Kesalahan yang secara desperate aku cari dengan paksa karena aku benci untuk tahu bahwa kamu bisa saja sempurna, kamu bisa saja tanpa cela, dan aku, bisa saja benar-benar jatuh hati kepadamu.

Aku benci jatuh cinta, terutama kepada kamu. Demi Tuhan, aku benci jatuh cinta kepada kamu. Karena, di dalam perasaan menggebu-gebu ini; di balik semua rasa kangen, takut, canggung, yang bergumul di dalam dan meletup pelan-pelan…

aku takut sendirian.

— Raditya Dika, April 2009