Tuesday, November 16, 2010

Lagi, Lagi, dan Lagi

“Sudah hampir tiga tahun aku begini. Dua puluh delapan bulan. Kalikan tiga puluh. Kalikan dua puluh empat. Kalikan enam puluh. Kalikan lagi enam puluh. Kalikan lagi enam puluh. Niscaya akan kau dapatkan angka ini: 4.354.560.000 Itulah banyaknya milisekon sejak pertama aku jatuh cinta kepadamu. Angka itu bisa lebih fantastis kalau ditarik sampai skala nano. Silakan cek. Dan aku berani jamin engkau masih ada di situ. Di tiap inti detik, dan di dalamnya lagi, dan lagi, dan lagi…”
—Dewi Lestari, Selagi Kau Lelap (2000)

Tuesday, November 2, 2010

Lebih Mudahkah?

Mungkin akan lebih mudah buatku jika aku tak harus melihatnya setiap saat menunjukkan batang hidungnya di hadapanku, menari-nari di timeline twitterku, melambai padaku dari kejauhan lewat status-status messengernya yang, aku tak tahu bagaimana aku bisa seyakin ini, namun menurutku, pada suatu titik, itu semua dibuat dengan sedikit intensi untuk menyakitiku.
Namun, benarkah? Benarkah hidupku akan lebih mudah? Benarkah hidupku bisa lebih mudah tanpa bayangannya, mengingat hanya itu yang tersisa untukku saat ini? Benarkah hidupku bisa lebih mudah tanpa rasa sakit, yang diam-diam, aku nikmati ini? Benarkah bisa?

Monday, November 1, 2010

Tak Ada yang Pernah Tahu

Dalam hidup seorang gadis, akan selalu ada lelaki itu. Ya, lelaki itu. Lelaki yang seakan-akan mengambil separuh nafasnya, lelaki yang dengan egois memenuhi setiap sudut pikirannya, lelaki yang namanya ia bawa di setiap sel tubuhnya, lelaki yang eksistensinya ia rasa tak akan pernah cukup baginya untuk dinikmati.
Akan ada seorang lelaki, lelaki itu. Yang ia percaya dengan setiap butir kepercayaan yang ia punya. Yang meskipun telah beribu kali menyakiti hatinya, namun ia tak akan pernah lelah menerima maafnya. Lelaki yang sejak awal ia cintai, sampai pada suatu saat dimana ada alasan untuk berhenti, yang menurutku, mustahil untuk ada.
Mungkin, untuk aku, lelaki itu kamu. Namun mungkin, aku kira itu kamu. Mungkin.
Tak ada yang pernah tahu.