Friday, April 30, 2010

Sang Sutradara Egois

Beberapa kru menggerutu, menuntut sang sutradara untuk mengganti tokoh utama. Kecewa, kata mereka.
Tapi sang sutradara tetap saja ngotot dengan pilihannya. Ia masih mempertahankan aktor utama yang dicaci-caci kru nya itu.
Sutradara, yang sekaligus si penulis naskah, bersikeras bahwa aktor itulah yang harus memerankan tokoh dalam film nya ini.
Padahal film ini sudah dikerjakan lebih dari 2 tahun, dan belum selesai juga. Pada tahun pertama, si aktor memang menjalankan tugasnya dengan baik. Namun lama-kelamaan ia menjadi tidak disiplin. Ia sering datang terlambat ke lokasi, tak jarang datang dengan ogah-ogahan. Ia juga sudah tak secemerlang dulu.
Terang saja para kru protes, mereka pasti lelah sekali. Harus mengulang scene-scene yang seharusnya tidak perlu diulang.
Tapi sang sutradara tetap gigih, tetap indifferent.
“Ia adalah tokoh utama dalam setiap naskahku, bintang dalam setiap filmku. Ya, harus. Aku memaksa,”
katanya.

Monday, April 12, 2010

Ketika Hujan Tak Lagi Sebarkan Tawanya Padaku

“It rains when you’re here and it rains when you’re gone...”
Dulu aku suka hujan.
Aromanya saat ia menapakkan langkahnya ke tanah.
Bunyinya yang nyaring bersahut-sahutan, terdengar dari kelasku.
Tak jarang, ia dapat membuat kami pulang lebih cepat, hehehe.
Dulu aku suka hujan.
Sensasinya saat butiran-butirannya terhempas ke permukaan kerudungku, jauh meresap hingga kulit kepalaku.
Dinginnya yang tak jarang membuat kulit kakiku memucat bahkan kadang sampi mengerut!
Dulu aku suka hujan.
Aku suka sekali warna payung teman-temanku yang berwarna-warni, saling senggol di kerumunan siswa di depan meja Joyo.
Aku suka sekali pemandangan dimana teman-teman lelakiku melakukan aksi sok heroik dengan meminjamkan jaketnya ke gadis mereka.
Aku suka sekali sepatu-sepatu yang ditenteng atau diikat di tas sekolah teman-temanku.
Aku suka sekali teriakan-teriakan jijik teman-teman wanitaku karena banyak kecoa, hehehe.
Dulu aku suka hujan.
Saat aku dan saudari-saudariku berlari mengelilingi tempat bimbingan belajar kami tanpa sepatu.
Saat aku dan saudari-saudariku menari, menikmati hari bahagia itu.
Saat aku dan saudari-saudariku menggingil kedinginan tanpa jaket.
Saat aku dan saudari-saudariku berebut minta dibelikan teh panas kepada papa.
Dulu aku suka hujan.
Saat aku melihat seseorang melompat karena kecoa.
Saat aku melihat teman-teman priaku bermain bola di tengah jalan.
Saat aku melihat ponselku dan membaca pesan yang, ah, tak akan ku ceritakan padamu.
Dulu aku suka hujan.
Karena seseorang menungguku di sana.
Karena seseorang memiliki janji tentangnya denganku.
Dulu aku suka hujan.
Suka sekali.
Tapi sekarang?
Aku tidak terlalu suka hujan.
Aku tidak lagi menanti hari hujan.
Aku bahkan sedikit mengeluh ketika hari itu akhirya datang.
Aku benci aku harus melepas sepatuku dan meggantinya dengan sandal.
Aku benci aku harus jalan merapat dari kelasku ke pos satpam menunggu jemputan.
Aku benci tatapan aneh teman-teman baruku di kala aku menadahkan wajahku padanya.
Aku benci harus melintasi koridor yang tak bisa lagi ku duduki.
Aku benci ketika latihan sebauh ss harus dihenikan karenanya.
Aku benci aku harus duduk merapat saat rakor.
Aku benci baju-bajuku yang tak kunjung kering terpaku di jemuran.
Aku benci cipratannya yang mengotori rok panjang abu-abuku.
Maaf, tapi kini aku benci kamu, hujan.
Maka, kembalikan hujanku yang dulu.
Kembalikan rasa kagumku padamu beserta segala kenangan-kenangan antara aku dan kamu, hujan. Kembalikan supaya aku tak lagi membencimu.
Aku mohon, hujan.
Aku mohon.

Tuesday, April 6, 2010

Untuk Kamu yang Suka Seenaknya Sendiri

Hey kamu.
Jangan begitu, dong.
Siapa sih kamu?
Aku tahu aku memang mengagumimu, terkadang memujamu.
Tapi bukan berarti kamu bisa menggunakan alasan itu untuk mempertebal kesenanganmu, kan?
Siapa sih kamu?
Aku tahu kamu memang keren. Kata mereka kamu beken.
Tapi bukan berarti kamu bisa melakukan ini padaku, kan?
Aku tahu aku menyayangimu, dan aku pun tahu kamu mengetahui hal itu.
Lalu apa? Untukmu ini pride? Untukmu ini hiburan? Untukmu ini konsumsi batin, kepuasan yang kau nikmati detik demi detiknya?
Siapa sih kamu?
Hey kamu.
Kamu tidak bisa memiliki semuanya.
Kamu kira seluruh isi dunia ini berlutut padamu seperti aku?
Bahkan aku pun tak lagi begitu. Ini tulisan-tulisanku. Ini sahabatku.
Dan aku tahu memang ini tentang kamu.
Tapi bisa tidak sih? Sedikit saja kamu tunjukkan ketidakpedulianmu.
Kan kamu jagonya dalam hal itu.
Juara dalam hatiku.