Monday, November 16, 2009

Where It's All Started

Aku berjalan, hingga sampai di belokan itu, ku cepatkan langkah kakiku. Sedikit berlari, menyusuri jalan yang sudah tak asing lagi.
Ku sapa orang-orang yang sudah lama ku kenal. Sambil melompat-lompat di deretan balok-balok semen yang berjajar rapi. Iseng, ku coba salah satu balok di situ, ternyata masih bisa bergoyang seperti dulu.
Lalu aku berhenti sejenak di bangunan tepat di sebelah tempat tujuanku, termenung. Teringat betapa pojokan kecil yang bahkan kini sudah berubah wajahnya itu pernah menjadi tempat favoritku. Salah, masih.
Aku tak dapat melangkahkan kakiku untuk beberapa saat. Masih saja aku terbius oleh dahsyatnya pesona spot itu. Dan akhirnya memori itu terkuak, seakan aku baru saja menekan tombol play pada DVD player, kenangan itu berputar seperti film.
Namun, kekuatan sihir tempat tujuanku nampaknya jauh lebih kuat, ia berhasil membuatku beranjak dari pojokanku. Sampai jumpa, kataku dalam hati.
Ku susuri jalan itu, sambil menari. Ya, aku menari sambil berjalan, setengah berlari.
Ku tatap bangunan itu, cat nya masih tetap hijau seperti dulu, sebagian otakku berpikir, kapan ya cat nya diganti? Tidak bosan apa?
Akhirnya aku sampai hampir di ujung jalan. Aku berhenti di depan gerbang coklat yang tampak megah, lalu aku mendengar seseorang menyapaku seperti biasa, menawarkan minuman-minuman botol yang aku tak tau sudah berapa lama mereka menumpuk di sana. Sambil tertawa ku tolak tawarannya, ku katakan, “Nanti,”.
Ku masuki gerbang itu. Ku tatap hamparan bangunan di hadapanku.
Di sinilah segalnya dimulai.
Ah, rindunya.
Beberapa saat kemudian ku lihat sosok yang ku kenal, dengan lantang ku berteriak,
“Joyooooooooooo!!!”

No comments:

Post a Comment