Friday, December 14, 2012

Best birthday wishes I've had (so far)

I have nothing to do today, well I know I'm supposed to be studying for final exam, but I couldn't care less. So I went through my old birthday wishes which I got for my 18th birthday (yes, that was 2 years ago) and read them one by one. They were all good wishes, of course. But I found these hilarious but sweet wishes I almost forgot I had one.
This one was from my brother Reza: "Mbak Kikik selamat ulang tahun ya semoga sehat, masuk FK, jangan pelit2, kembalikan laptopku tepat waktu"
And this one was from my lil brother Raihan: "Selamat ulang tahun yang ke 18 mbak kiki semoga sehat selalu dan nggak takut sama tokek lagi"
And from my best buddy @mawxey: "Happy 18th birthday!!! Kikiana!!! Tetep tangguh, bermoral dan berwawasan! GO WAGS GO! LOL!"
Those are my favorite birthday wishes of my almost-20-years-lifetime. Oh I miss that time, for some reasons.
Anyway, I'm turning 20 in less than 3 months! Time does fly so fast, does it not?

PS. (I know this is a day late but I'm gonna say it anyway) HAPPY BIRTHDAY! Wishing you all the greatest things in life! x

Monday, November 5, 2012

This Ain't Goodbye

video

A video by Deddy Laudryansyah Putra & Ibnu Surya Ramadhan
for STR3SS Peeps
and specially for Putri Fary Prawita

Take care, Kak. Beat USA. Be amazing there.
Wherever you are, I hope when you remember us, you'll feel like home.

Friday, September 7, 2012

Unmeasurable

“I'm very good with numbers.
But not so good with love. 
I tried to quantify my feelings
into neat little rows of figures. 
I counted goosebumps
and shivers
tallied skipped heartbeats
and measured breaths. 
I thought that if I could put a number
to the way I feel about you
it all might make
some kind of sense.
But the truth is
there is no logic
to the way I love you.
And it frightens me.”
—EC

Friday, August 10, 2012

Put your records on, tell me your favorite song♬

♬Three little birds sat on my window, and they told me I don't need to worry
Summer came like cinnamon, so sweet, little girls double-dutch on the concrete
Maybe sometimes we got it wrong, but it's alright
And nothing seems to change, and it all will stay the same
Oh, don't you hesitate♬
-Corinne Bailey Rae - Put Your Records On-

Wednesday, August 1, 2012

On In Love and Not Being Able to Write Pretty Words

Oleh Raditya Dika

Kata orang, kalo mau ngeblog,
tulislah perasaan paling kuat yang lagi kamu rasakan.

Well, saya lagi jatuh cinta,
dan saya ingin menulis tentang itu.

 Now, this is the problem. Saya takut menulis tentang cinta. You know, tulisan tentang cinta, adalah tulisan yang paling susah untuk ditulis. Karena, sangat susah menulis tentang cinta tanpa terlihat dangdut, corny, atau downright menya-menye. Saya tidak ingin tulisan yang saya buat jadi terlihat seperti surat cinta mbak-mbak dan mas-mas pembantu rumah: “Kalau kamu jadi madu, aku jadi lebahnya.” Hoek. Atau, “Kalau kamu jadi kumbang, aku jadi sepedanya… sepeda kumbang.” Dobel hoek.

For me, what I have with you now,
lebih dari analogi yang melibatkan serangga.

Hmmmmm… Tapi kalau mau dianalogikan, let me get a shot: falling in love with you is like prasmanan tanpa pernah terpuaskan. Semua detail-detail sifat yang kamu tawarkan: quirkiness kamu, ketidaklaziman kamu, kemengertian kamu terhadap keanehanku (begitu pun sebaliknya), seperti di tawarkan dalam piring-piring buffet dengan silver platter yang menyala rapih. Dan kuambil. Kukonsumsi. Namun, aku masih kelaparan. Lalu kuambil, kukonsumsi kembali. Dan aku, tetap kelaparan. Saya bisa menyalahkan ini kepada sifat aku yang menagih -dan tidak pernah puas-, atau kepada kamu yang terus menawarkan cita-rasa yang tak kunjung habis. Atau, kepada keduanya. I can only sum it up: I. Can’t. Get. Enough. Of. You.

Waduh. Maaf, lagi puasa,
jadi analoginya nyambung ke makanan.

Tuh kan. Maybe I can’t find cool analogies, pretty metaphors, or write a lovey dopey poem (you know, yang kayak “ketika langit tak berbintang, maka aku..”. Damn, Triple hoek dengan cuh), I definitely can’t write music. I’m a comedy writer, therefore I’m not even good with words for these kind of things.

So, I’m gonna make this ultra-simple,
the most primitive form of telling how I feel: “I love you”.

And I love being with you! I love your giggle, your silly grin, your energetic story-telling (with your hands waving aroud), your sharp bitchiness. I love our awkwardness when our hands meet, and the fact we act it cool.Oh and I love the way you walk, the way you dance, the way you sing (god, the way you sing make angels sound like Doraemon!) and how you apply your personality in a paste. I love the look in your eyes when you showed me those MJ videos, Bruce Lee interviews, those reflective eyes, longing for perfection, filled with deep thoughts and ambitions. The ambitions that I share. The way of thinking that I understand. The unconventional person, you are. You are the odd-shaped jigsaw puzzle that I’m looking to fit. And you completed me.

Thus, when they ask me: why do you love her?
I can safely say: what is not to love? 

So, I am welcoming you to my life.
Now, let’s do this together, love.

PS: There. The first rule of blogging: write what you feel. Safely done. No insects involved.

Monday, July 23, 2012

Pertemuan Setahun Lalu

“Betapa hati bisa dengan mudah berganti suasana hanya karena sebuah peristiwa.”
Kaila

Setahun yang lalu, kehidupan membawaku bertemu dengan orang-orang baru, yang pada saat itu mau tidak mau harus aku terima karena aku tak ingin jadi berbeda. Bukan cinta pandangan pertama memang, namun mungkin aku telah jatuh di pandangan berikutnya. Aku jatuh cinta sejalan dengan aku mulai mengenal kalian. Karena kalian, waktu itu aku berpikir, "Mungkin kehidupan kuliah tidak seburuk yang aku pikirkan". Dan ternyata aku benar.

Lalu kehidupan berjalan, dan seperti layaknya kehidupan, terkadang tak sesuai rencana. Lagi-lagi, kehidupanku berubah dalam hitungan detik.
Sahabat yang dulu dekat kini harus dipisahkan oleh prinsip.
Bukannya itu seharusnya tidak menjadi masalah?
Atau mungkin...itu masalah?

Sebenarnya, siapa yang salah? Aku, kalian, atau kita?
Atau ini semua hanya karena kita terkungkung egoisme dan gengsi.

Semoga kita bisa bertemu lagi di masa mendatang.
Masa dimana kita semua telah menemukan cara untuk menepikan egoisme masing-masing.
Masa dimana kita bisa menengok ke belakang dan berkata, "Betapa bodohnya kita" sambil tertawa.
Sampai jumpa di keadaan yang lebih baik.





Sunday, July 22, 2012

Maaf, Aku tidak Sengaja

Oleh Dara Prayoga dalam Racikan Kata

Aku tidak sengaja jatuh cinta. Aku tidak sengaja mencuri-curi pandang ketika aku bersama kamu. Dan ketika kamu melihat ke arahku, aku tidak sengaja membuang pandanganku sejauh-jauhnya, lebih jauh dari rekor lempar lembing yang pernah tercipta, hanya untuk tetap menjaga kamu tidak tahu aku sedang memandangmu.

Aku tidak sengaja merasa senang berada dalam satu momen bersamamu. Aku tidak sengaja mengharapkan kamu ada ketika kamu dan aku tidak dalam ruang dan waktu yang sama. Celingukanku membuktikannya.

Aku tidak sengaja berharap semua barang yang kupinjamkan padamu tidak kamu kembalikan sekaligus. Aku tidak sengaja berharap kamu meminjam satu barang lagi dariku setiap kamu mengembalikan barang lainnya. Semuanya tidak sengaja beralasan agar kita tetap bertemu.

Aku tidak sengaja mengaktifkan phenylethylamine dari sistem limbik otakku saat dekat kamu. Dan itu memicu euphoria. Aku tidak sengaja sangat suka suara tawamu terhadap leluconku. Ketika kamu aku goda, aku tidak sengaja nyaman menerima cubitan manja kamu yang mendarat di perutku. Aku tidak sengaja panik jika kehabisan bahasan obrolan ketika aku berbincang dengan kamu. Rasanya dimensi waktu lari terbirit-birit jika aku sedang bersama kamu, seolah kebersamaan aku dan kamu begitu menakutkan bagi waktu.

Aku tidak sengaja menawarkan baju hangatku ketika kamu kedinginan. Ah, aku tidak sengaja terus membayangkan wangi parfummu yang tertinggal di baju hangatku. Terus menerus, hingga pagi menjelang, handphone-ku adalah yang pertama ku-check. Aku tidak sengaja kecewa jika ada SMS namun bukan kamu pengirimnya. Aku tidak sengaja khawatir jika tidak tahu kabarmu.

Demi Tuhan, aku tidak sengaja uring-uringan ketika kamu tidak ada di tempat biasanya ketika aku cari. Aku tidak sengaja mencari tahu banyak hal tentangmu.

Aku tidak sengaja jatuh cinta kepadamu. Aku tidak sengaja benci membayangkan ini semua hanya pesan yang gagal aku decode dengan baik. Pesan yang kamu kirimkan begitu rumit, atau alat pen-decode-ku yang kalut tertutupi canggung, takut, rindu, cemas, harap, dan kawan-kawannya?

Aku tidak sengaja menjadikanmu “karena” dalam setiap “mengapa” yang bermuara di benakku.

Maaf, aku tidak sengaja…

Kamu tidak harus sengaja untuk jatuh cinta.

*Dua teori yang pernah aku dengar: 1) Otak tidak bisa menerima kata ‘tidak’ 2) Tiada ketidaksengajaan di dunia ini.



ditulis setelah melewati bersama momen-momen berharga dalam hidup, untuk kamu

Saturday, July 21, 2012

If you are going to fall in love with me...

“If you are going to fall in love with me, it’s only fair that you know what you are falling in love with. You are falling in love with my insecurities, and my obsession with trying to figure out what everyone thinks of me. You are falling in love with my immaturity, my constant need to feel loved and appreciated, my overactive tear ducts, my internet obsession. You fall in love with my troubled past, and my hopes and dreams, and how I’m a hopeless romantic at heart. If you fall in love with me, you fall in love with my self-hate and all my imperfections and my perception that nobody could ever love me.
But, you are also falling in love with the way my eyes will smile when I’m with you, the way I’ll text you in the mornings just telling you I hope you have a great day. You’re falling in love with the occasionally humorous and/or thought-provoking things I say, and the way I blush when people ask me about you.  
But to me, the most important thing will be that you are falling in love with me, despite me thinking that it is impossible.
source

Thursday, June 21, 2012

Well, she does have a point..

“When you’re in love, you want to spread the word, to tell the fish in the ocean and the lamppost on the corner and to send the news spinning itself out across continents and seas, so that all of creation might rejoice with you.”
— Love Walked In, Marisa De Los Santos

Wednesday, June 13, 2012

I'm in love with you

"I'm in love with you," he said quietly.
"Augustus," I said.
"I am," he said. He was staring at me, and I could see the corners of his eyes crinkling. "I'm in love with you, and I'm not in the business of denying myself the simple pleasure of saying true things. I'm in love with you, and I know that love is just a shout into the void, and that oblivion is inevitable, and that we're all doomed and that there will come a day when all our labor has been returned to dust, and I know the sun will swallow the only earth we'll ever have, and I am in love with you."
— John Green, The Fault in Our Stars

Monday, June 11, 2012

I was drizzle and she was a hurricane

"I wanted so badly to lie down next to her on the couch, to wrap my arms around her and sleep. Not fuck, like in those movies. Not even have sex. Just sleep together, in the most innocent sense of the phrase. But I lacked the courage and she had a boyfriend and I was gawky and she was gorgeous and I was hopelessly boring and she was endlessly fascinating. So I walked back to my room and collapsed on the bottom bunk, thinking that if people were rain, I was drizzle and she was a hurricane."
—John Green, Looking for Alaska

Saturday, April 14, 2012

Masihkah, Fai?

Hi, Fai.
Apa kabar?
Apa kamu masih terjebak dalam dilema lebih baik tidak menikah daripada menikah tanpa cinta? Walaupun kamu ngerasa nyaman banget dengan seseorang, bersamaan dengan itu kamu juga meragukan kadar cinta yang kamu miliki?
Kenapa, Fai?
Kenapa kamu bisa memiliki perasaan nyaman tanpa mampu menumbuhkan cinta?

Fai,
Kenapa kamu nggak pernah mau bercermin dari aku? Aku adalah contoh hidup dari dilema yang sedang kamu hadapi.
Berbeda dengan kamu, saat memutuskan pacaran, aku hanya bermodalkan rasa suka. Kemudian, aku memutuskan menikah dengan modal logika.
Kamu tahu itu, kan, Fai?
Tapi, apa kamu tahu kalau perasaan nyaman yang aku rasakanlah yang menjadi salah satu hal logis yang menurutku perlu aku pertimbangkan.
Kenapa?
Nggak tau, Fai.
Tapi, saat itu, aku berpikir cinta yang menggebu-gebu bisa membutakan. Tapi, perasaan nyaman adalah pupuk cinta itu sendiri

Tapi...
Semakin dekat dengan hari pernikahan, aku malah semakin sering mendengar orang melontarkan ucapan seperti ini: "Emang enak kawin?" atau "Nikmati masa bulan madu kamu nanti karena setelah itu... welcome to the hell. Apalagi kalau kamu langsung hamil" Dan yang paling seram adalah pernyataan Mbak Ami yang bilang, "Gue menjalani pernikahan gue, bukan menikmatinya."
Menjalani, Fai.
Seolah-olah, pernikahan hanya memberikan dua pilihan bagi kita: bercerai atau terpaksa menjalaninya. Apalagi, kalau keburu punya anak.

Fai,
Waktu itu aku takut banget. Aku pikir, ngapain terikat dalam sebuah hubungan seumur hidup kalau kita nggak bisa menikmatinya? Menurutku, itu adalah bentuk lain dari bunuh diri.
Tapi, beberapa orang bilang, "That's life, Dear."
Yup, Fai, that's life.
Dan, aku mau enjoying my life.

Apa itu mungkin terjadi dalam pernikahan, Fai?
Atau, pertanyaan yang lebih tepat adalah, apakah pernikahan bisa dijadikan sebagai media untuk menemukan kabahagiaan?
Mungkin.
Kalau nggak, kenapa hampir seluruh penduduk bumi kawin?
Atau, sebenarnya, manusia sebegitu bodohnya hingga dengan sadar membiarkan dirinya masuk ke dalam perangkap yang sejak zaman nenek moyang telah diketahui sebagai penjara hidup. Apalagi, untuk kaumku, Fai. Perempuan.

Hmmm...
Kayaknya, aku tahu apa yang timbul di dalam kepala kamu saat membaca dua paragraf terakhir dari tulisanku di atas. Sebuah pertanyaan. Kenapa aku tetap memutuskan menikah?
Jawabannya simpel, Fai.
Karena aku nggak punya nyali untuk membatalkan sebuah rencana yang melibatkan semua orang yang berkuasa mengeluarkan aku dari daftar silsilah keluarga dengan alasan: TELAH MENCORENG NAMA BAIK KELUARGA.
Well, runaway bride cuma bisa terjadi di Amerika, kan, Fai?

Jadi...
Kalau rasa nyaman, bibit, bebet, dan bobot adalah pertimbangan logis pada awalnya, kesadaran akan efek dari tindakan membatalkan pernikahan menjadi pertimbangan logis berikutnya.
So, here I am, Fai.
Dengan kesadaran, aku telah mengubah status diriku di KTP dari lajang menjadi kawin.

Dan, aku mulai menyiapkan diriku untuk masuk ke dalam fase paling membosankan dalam hidupku, Fai.
Menjadi seorang istri.
Seperti nasihat Mbak Ami, aku pun berusaha meyakini diriku untuk menjalaninya. Bukan menikmatinya. "Nggak usah muluk-muluk." Begitu saran tambahan yang dilontarkan Mbak Ami. "Udah bagus nggak cerai atau jadi korban kekerasan dalam rumah tangga."
Anyway...
Aku menikah berdasarkan logika, kan?

Tapi, ternyata, dalam perjalanannya, aku menemukan sesuatu yang menakjubkan telah terjadi, Fai.

Bahwa,
I'm in love with my husband... saat menyadari kalau beberapa kali dia telah ngebiarin aku tetap tidur saat dia sudah bangun pagi. Dia cuci muka, terus bikinin aku teh hangat.

I'm in love with my husband... saat aku lagi masak dan tanpa bertanya dia langsung ngambil beras, mencucinya, dan masak nasi di rice cooker.

I'm in love with my husband... saat aku yang nggak bisa masak tetap ngotot nyoba masak buat dia. Aku mencoba masakan dengan bahan instan, seperti, sosis, chicken nugget, daging asap, kentang goreng, mi instan, bahakan sup asparagus, yang tnggal dicemplungin di air mendidih. Kemudian, dia komentar, "Aku seneng makan kenyang, tapi istriku nggak usah capek. Ternyata, orang bule emang pintar, ya. Mereka nyiptain masakan siap saji dan siap diangetin doang. Soalnya, aku butuh istri bukan cuma buat masak doang."

I'm in love with my husband... saat pagi sebelum berangkat kerja dia bilang, "Biar aku yang nyuci jeans dan semua pakaian yang berat. Kamu nyuci yang ringan-ringan saja, ya."

I'm in love with my husband... karena setiap akhir bulan dia transfer semua gajinya ke rekeningku dan bilang, "Aku, tuh, boros banget. Makanya, kamu yang ngatur keuangan kita, ya." Dan saat aku tunjukin jumlah uang tabungan di bank, dia langsung tertegun dan bertanya, "Kamu nabung sebanyak ini?" Raut mukanya terlihat sedih saat dia bilang, "Kamu boleh, kok, belanja, beli baju atau melakukan sesuatu. Jangan hanya dipakai buat kebutuhan sehari-hari dan sisanya ditabung. Aku, kan, senang kalau bisa ngebeliin kamu barang-barang yang kamu suka."

I'm in love with my husband... saat dia ngajak aku beli ponsel baru, tapi aku tolak dengan alasan baru membeli laptop dan itu berarti tabungan berkurang. Terus, dia bilang, "Aku sedih nggak bisa beliin istriku ponsel baru yang mahal."

I'm in love with my husband... saat beberapa orang pria didekat rumah sempat gangguin aku, reaksi dia adalah mencari orang keamanan kompleks dan bilang, "Gue nggak mau ada siapa pun yang ganggu istri gue. Kalo elo nggak bisa menyelesaikan ini dengan cara lo, gue akan menyelesaikan ini dengan cara gue."

I'm in love with my husband... saat aku melihat hasil test pack-ku yang kesejuta kalinya dan berkata, "Aku gagal hamil lagi." Dia ketawa sambil ngejitak kepalaku. Kemudian, bilang, "Kita coba buat anak lagi, yuk?"

I'm in love with my husband... and I want to continue in love with him in many ways.

Fai,
Rasa nyaman itu sudah berubah menjadi rasa cinta!
Padahal, suamiku nggak pernah ngasih candlelight dinner,
atau ngasih aku bunga,
atau ngasih aku puisi cinta,
atau ngasih aku kartu Valentine yang romantis,
atau ngasih aku berlian,
atau ngasih aku surprise dengan ngajak nonton opera.
Dia cuma bikinin aku teh,
nyuci celana jeans,
nyuci beras,
atau percayain uangnya ke aku.

Tapi, kata Mbak Ami, "Jelas aja. Elo, kan baru kawin dua tahun. Coba, deh, kalo udah kawin selama lima tahun. Gue pengin dengar komentar lo."
Fai,
Masa, sih, suamiku nggak mau bikinin aku teh setelah lima tahun?
Masa, sih, suamiku nggak mau nyuci jeans setelah lima tahun?
Masa, sih, suamiku nggak mau nyuci beras setelah lima tahun?
Masa, sih, suamiku nggak mau percayain uangnya ke aku setelah lima tahun?
Atau
masa, sih, aku nggak bisa menghargai hal-hal kecil yang dia lakukan setelah lima tahun?

Marriages maybe made in heaven,
but a lot of the details have to be worked out here on earth.
Dan, di bumi,
segalanya adalah sesuatu yang nyata, Fai.
Bahkan, cinta.
Seperti dialog Meryl Streep dalam salah satu adegan film Prime, "Love is Work."
Perlu sebuah usaha untuk mencintai.
Perlu sebuah usaha untuk merasa jatuh cinta
Perlu sebuah usaha untuk bisa dicintai.
Tapi, menurutku, yang paling penting adalah, perlu sebuah usaha untuk bisa menghargai.
So, apa sih, cinta?
Kamu bisa mengartikan cinta dengan apa saja, Fai.
Tapi, satu yang harus kamu sadari, cinta bisa datang dari hal yang sangat sederhana.

Bagiku, cinta adalah... when your man look at you as a person.
Not a partner, not a wife, not a mother of his child, not even a woman.
But as person.
Kalau kita melihat seseorang sebagai "seseorang", itu berarti kita akan memberi penghargaan akan segala perbedaan yang ada di antara diri kita dan dirinya.

Fai,
Aku menikah tanpa cinta, Tapi, dalam perjalanannya, suamiku telah berhasil membuatku jatuh cinta karena aku merasa dicintai.
Karena aku merasa dibiarkan menjadi diriku yang berbeda dengann dirinya.
Karena aku merasa dia menghargai, bahkan untuk sekobokan beras yang aku cuci untuknya.

Fai,
Apakah aku nggak bisa membuat suamiku jatuh cinta denganku karena dia merasa dicintai?
Karena dia merasa diberi ruang, bahkan untuk meragukan perasaannya untukku?
Karena aku menghargai dirinya yang merasa nyaman denganku dan hanya merasa nyaman?

Fai,
Mungkin, sesekali, kamu harus mencoba untuk berhenti melogikakan cinta.
Mungkin, sebaiknya, kamu belajar manikmatinya saja.
Dan, terutama, membiarkannya dia datang menyapa hatimu.
Seperti yang aku lakukan selama dua tahun ini dalam perjalanan perkawinan kita.


Happy anniversary, Faizan.


Love,
Adita


— Riri Sardjono, Kepada Cinta pg. 155-166

Kepada Kamu dengan Penuh Kebencian

Kepada kamu,
dengan penuh kebencian.

Aku benci jatuh cinta. Aku benci merasa senang bertemu lagi dengan kamu, tersenyum malu-malu, dan menebak-nebak, selalu menebak-nebak. Aku benci deg-degan menunggu kamu online. Dan di saat kamu muncul, aku akan tiduran tengkurap, bantal di bawah dagu, lalu berpikir, tersenyum, dan berusaha mencari kalimat-kalimat lucu agar kamu, di seberang sana, bisa tertawa. Karena, kata orang, cara mudah membuat orang suka denganmu adalah dengan membuatnya tertawa. Mudah-mudahan itu benar.

Aku benci terkejut melihat SMS kamu nongol di inbox-ku dan aku benci kenapa aku harus memakan waktu begitu lama untuk membalasnya, menghapusnya, memikirkan kata demi kata. Aku benci ketika jatuh cinta, semua detail yang aku ucapkan, katakan, kirimkan, tuliskan ke kamu menjadi penting, seolah-olah harus tanpa cacat, atau aku bisa jadi kehilangan kamu. Aku benci harus berada dalam posisi seperti itu. Tapi, aku tidak bisa menawar, ya?

Aku benci harus menerjemahkan isyarat-isyarat kamu itu. Apakah pertanyaan kamu itu sekadar pancingan atau retorika atau pertanyaan biasa yang aku salah artikan dengan penuh percaya diri? Apakah kepalamu yang kamu senderkan di bahuku kemarin hanya gesture biasa, atau ada maksud lain, atau aku yang-sekali lagi-salah mengartikan dengan penuh percaya diri?

Aku benci harus memikirkan kamu sebelum tidur dan merasakan sesuatu yang bergerak dari dalam dada, menjalar ke sekujur tubuh, dan aku merasa pasrah, gelisah. Aku benci untuk berpikir aku bisa begini terus semalaman, tanpa harus tidur. Cukup begini saja.

Aku benci ketika kamu menempelkan kepalamu ke sisi kepalaku, saat kamu mencoba untuk melihat sesuatu di handycam yang sedang aku pegang. Oh, aku benci kenapa ketika kepala kita bersentuhan, aku tidak bernapas, aku merasa canggung, aku ingin berlari jauh. Aku benci aku harus sadar atas semua kecanggungan itu…, tapi tidak bisa melakukan apa-apa.

Aku benci ketika logika aku bersuara dan mengingatkan, “Hey! Ini hanya ketertarikan fisik semata, pada akhirnya kamu akan tahu, kalian berdua tidak punya anything in common,” harus dimentahkan oleh hati yang berkata, “Jangan hiraukan logikamu.”

Aku benci harus mencari-cari kesalahan kecil yang ada di dalam diri kamu. Kesalahan yang secara desperate aku cari dengan paksa karena aku benci untuk tahu bahwa kamu bisa saja sempurna, kamu bisa saja tanpa cela, dan aku, bisa saja benar-benar jatuh hati kepadamu.

Aku benci jatuh cinta, terutama kepada kamu. Demi Tuhan, aku benci jatuh cinta kepada kamu. Karena, di dalam perasaan menggebu-gebu ini; di balik semua rasa kangen, takut, canggung, yang bergumul di dalam dan meletup pelan-pelan…

aku takut sendirian.

— Raditya Dika, April 2009

Wednesday, January 11, 2012

Cheesy, no?

This post will sound cheesy but....

I thought I'm over you...but apparently I'm not. I saw you couple days ago, after years, and I still felt weird. It was more like a fight, in my mind, about if it's good to see you or if it's not. And it ended in a draw.

Then the band started playing...
"Mungkin memang ku yang harus mengerti, bila ku bukan yang ingin kau miliki...
Salahkah ku bila kaulah yang ada di hatiku?
...adakah ku sedikit di hatimu?"
Oh. The entire universe conspired to make me feel like this. I know that.