Friday, December 31, 2010

Yang Terakhir Tentang dan Untuk Kamu

Terima kasih.

Terima kasih, untuk dirimu yang membuatku merasa disayangi.
Terima kasih, untuk dirimu yang membuatku merasa diperhatikan.
Terima kasih, untuk dirimu yang membuatku menjadi gadis terbahagia di dunia.
Terima kasih, untuk dirimu yang pernah hadir dalam kehidupanku.
Terima kasih, untuk dirimu yang pernah mengisi hari-hariku.

Terima kasih, untuk semua yang sudah kamu berikan untukku.

Untuk tawa itu.
Untuk senyum itu.
Untuk tatapan mata itu.
Untuk hal-hal baru yang kau ajarkan padaku.

Untuk semua yang pernah terjadi di antara kita,
Terima kasih.

Maaf.
Untuk tetesan air mataku yang merepotkanmu.
Untuk kekanak-kanakanku yang memusingkanmu.
Untuk keegoisanku yang menyalahkanmu.
Untuk semua yang ku lakukan.

Maaf.
Untuk kata maaf yang terlambat.

Monday, December 13, 2010

Bon Anniversaire

This is supposed to be your birthday wishes which I wrote months ago when we were still together.

"I once heard an quite odd but interesting myth. It said: If a pregnant mother dream about someone or something, there's a chance that the baby will be quite like them. Weird, isn't it?
But maybe...that's true. Well, maybe not.
If it is, somehow, true, I bet your Mom dreamed about fairy tales, you know, something beautiful. Or maybe about superheroes. I don't know, something magical, maybe?
Because, you're kinda like a fairy tale for me, kinda like a happy ending. But I prefer the superheroes one. Because you saved me, you drew a smile on me. And you surely are a magical, the most amazing thing that's ever 
happened to me. Because of you, I know what happiness means. Because of you, I know how great it is just to be me.
It's December 13th now. Been 18 years since that magic happened.
Happy birthday, dear.
And I love you. Love you enough to write you this silly corny cheesy birthday wishes. But I really do. I love you for who you are, and I'll say so in your next and next and next birthday.
Just be you, okay? You're cool already and you don't even have to try.
Keep saving people with that magical smile!
xoxo"


And that was just a little part of the surprise plan.

But since things are different now, I end up say this kind of thing,
"Happy birthday, have a good one. Wish you all the best. Take care."

You don't know how hard I tried to pluck up my courage, just to text you that most-common-birthday-wishes-in-the-world.

Well, happy birthday. All the best for you.

Wednesday, December 1, 2010

Message

I know the whole story, dear. It hurt a little. But not really now. I'm okay. And I wish you're doing okay too. Take care, will ya? ☺

I love you, always do.

Tuesday, November 16, 2010

Lagi, Lagi, dan Lagi

“Sudah hampir tiga tahun aku begini. Dua puluh delapan bulan. Kalikan tiga puluh. Kalikan dua puluh empat. Kalikan enam puluh. Kalikan lagi enam puluh. Kalikan lagi enam puluh. Niscaya akan kau dapatkan angka ini: 4.354.560.000 Itulah banyaknya milisekon sejak pertama aku jatuh cinta kepadamu. Angka itu bisa lebih fantastis kalau ditarik sampai skala nano. Silakan cek. Dan aku berani jamin engkau masih ada di situ. Di tiap inti detik, dan di dalamnya lagi, dan lagi, dan lagi…”
—Dewi Lestari, Selagi Kau Lelap (2000)

Tuesday, November 2, 2010

Lebih Mudahkah?

Mungkin akan lebih mudah buatku jika aku tak harus melihatnya setiap saat menunjukkan batang hidungnya di hadapanku, menari-nari di timeline twitterku, melambai padaku dari kejauhan lewat status-status messengernya yang, aku tak tahu bagaimana aku bisa seyakin ini, namun menurutku, pada suatu titik, itu semua dibuat dengan sedikit intensi untuk menyakitiku.
Namun, benarkah? Benarkah hidupku akan lebih mudah? Benarkah hidupku bisa lebih mudah tanpa bayangannya, mengingat hanya itu yang tersisa untukku saat ini? Benarkah hidupku bisa lebih mudah tanpa rasa sakit, yang diam-diam, aku nikmati ini? Benarkah bisa?

Monday, November 1, 2010

Tak Ada yang Pernah Tahu

Dalam hidup seorang gadis, akan selalu ada lelaki itu. Ya, lelaki itu. Lelaki yang seakan-akan mengambil separuh nafasnya, lelaki yang dengan egois memenuhi setiap sudut pikirannya, lelaki yang namanya ia bawa di setiap sel tubuhnya, lelaki yang eksistensinya ia rasa tak akan pernah cukup baginya untuk dinikmati.
Akan ada seorang lelaki, lelaki itu. Yang ia percaya dengan setiap butir kepercayaan yang ia punya. Yang meskipun telah beribu kali menyakiti hatinya, namun ia tak akan pernah lelah menerima maafnya. Lelaki yang sejak awal ia cintai, sampai pada suatu saat dimana ada alasan untuk berhenti, yang menurutku, mustahil untuk ada.
Mungkin, untuk aku, lelaki itu kamu. Namun mungkin, aku kira itu kamu. Mungkin.
Tak ada yang pernah tahu.

Sunday, October 31, 2010

We're on the Same Team

So, hi. Here I am. Alive.
I thought that I'd never be okay. But my thoughts failed me. I'm okay now. I really am.
This is my second time. The first one, didn't go well. I was miserable back then. But now I know how to do this right. And believe me, loving him has never been this easy before.
You don't get to think about one-sided love. It would definitely kill you. Just love. Love as easy as you breathe. Love him for yourself. Not for him, not for anyone. Just for yourself, and keep believing. But not too high. Just know your limit. Know what you can and cannot take. Know what you deserve.
I'm not saying it's always gonna be easy. There will always be the hard part. As for me, it's whenever I'm close to him. I'm not ready, yet. That rush, that heartbeat, I need some time. I need distance. But not too far. My place now? It's perfect. But I believe that, someday, distance won't matter. Even if he's close, even if he's far. I can take it.
The other hard part is, when I hear some issues. Yeah, you know, about new girl. It really broke my heart. But it was just for seconds. Can you believe that? It was just seconds! It ruined my mood for seconds! I cried though. A little. Then, it was suddenly just over. I whispered,"New girl, huh? Okay. I can deal with that". But the one thing that I still can't stop is to find out who's the girl. I mean, after knowing the girl, then what? Is there something I can do? No. So, what's the point? It seriously has to stop.
Sometimes I miss him. Well not sometimes. I miss him all the time. Like right now, I miss him so bad. I miss him enough I could go crazy. That crazy to get my phone and text him telling him how much I miss him. But I don't wanna do that. He deserves more than that. He deserves a better peaceful life, that I don't know somehow but I think, maybe, it's just a normal life, without me.
But, missing him won't kill me. It even makes me stronger. You know why? Because, by missing him, I know one thing I'm sure of: we were real.

Again, I'm not saying it's gonna be easy. I'm just saying it's gonna be worth it.

Uh-huh. Yep. I'm that strong. I believe I am.

PS:
How's life, eh? Life's pretty good here. Hope it's better there. I miss you, a lot, but you should've known that, right?
Be good, okay? Stay strong and keep healthy. Always know that, I'll still be here. I'm going nowhere. Don't you ever forget that.
So, I'll see you soon, then? :)

Friday, May 7, 2010

Bukan, bukan itu. Bukan yang itu juga. Bukan!

Sering orang bertanya, beberapa dari mereka serius, tak sedikit yang hanya sambil lalu. Pertanyaan mereka tetap sama, “Apa sih yang kamu lihat dari dia?”
Err… apa ya?
Aku mengagumimu tanpa alasan. Bukan karena bulu mata lentikmu yang bergerak seiring pergerakan kedua bola matamu yang bulat dan luluh lantakkan setiap kataku.
Aku mengagumimu tanpa alasan. Bukan karena kekar ototmu yang muncul di balik seragam tanpa lengan yang kau gunakan tiap Selasa-Rabu itu, bukan.
Aku mengagumimu tanpa alasan. Bukan karena garis wajahmu yang tampan meski kini terlihat sangat lelah. Apalagi itu, jelas bukan!
Aku mengagumimu tanpa alasan. Bukan karena kamu menunjukkan bentuk lain dari kata ‘cinta’ seperti di lirik-lirik lagu yang sampai bosan ku dengar.
Aku mengagumimu tanpa alasan. Bukan karena kamu adalah sosok kopi dari ayahku. Wujud lebih muda darinya.
Aku mengagumimu tanpa alasan. Bahkan bukan karena kamu adalah kamu!
Karena aku akan tetap mengagumimu, meski matamu tak lagi pancarkan sinarnya, meski otot kekarmu tergantikan oleh tubuhmu yang semakin menipis dimakan usia, meski kamu mulai menyanyikan lagu-lagu lama yang dangdut menye setengah mati itu! Meski kamu tak lagi seperti ayahku yang selama ini ku kenal. Meski segalanya tentangmu sudah menjadi kamu yang lain.
Aku mengagumimu.
Dan urusanku selesai sampai di situ.
Titik.

Friday, April 30, 2010

Sang Sutradara Egois

Beberapa kru menggerutu, menuntut sang sutradara untuk mengganti tokoh utama. Kecewa, kata mereka.
Tapi sang sutradara tetap saja ngotot dengan pilihannya. Ia masih mempertahankan aktor utama yang dicaci-caci kru nya itu.
Sutradara, yang sekaligus si penulis naskah, bersikeras bahwa aktor itulah yang harus memerankan tokoh dalam film nya ini.
Padahal film ini sudah dikerjakan lebih dari 2 tahun, dan belum selesai juga. Pada tahun pertama, si aktor memang menjalankan tugasnya dengan baik. Namun lama-kelamaan ia menjadi tidak disiplin. Ia sering datang terlambat ke lokasi, tak jarang datang dengan ogah-ogahan. Ia juga sudah tak secemerlang dulu.
Terang saja para kru protes, mereka pasti lelah sekali. Harus mengulang scene-scene yang seharusnya tidak perlu diulang.
Tapi sang sutradara tetap gigih, tetap indifferent.
“Ia adalah tokoh utama dalam setiap naskahku, bintang dalam setiap filmku. Ya, harus. Aku memaksa,”
katanya.

Monday, April 12, 2010

Ketika Hujan Tak Lagi Sebarkan Tawanya Padaku

“It rains when you’re here and it rains when you’re gone...”
Dulu aku suka hujan.
Aromanya saat ia menapakkan langkahnya ke tanah.
Bunyinya yang nyaring bersahut-sahutan, terdengar dari kelasku.
Tak jarang, ia dapat membuat kami pulang lebih cepat, hehehe.
Dulu aku suka hujan.
Sensasinya saat butiran-butirannya terhempas ke permukaan kerudungku, jauh meresap hingga kulit kepalaku.
Dinginnya yang tak jarang membuat kulit kakiku memucat bahkan kadang sampi mengerut!
Dulu aku suka hujan.
Aku suka sekali warna payung teman-temanku yang berwarna-warni, saling senggol di kerumunan siswa di depan meja Joyo.
Aku suka sekali pemandangan dimana teman-teman lelakiku melakukan aksi sok heroik dengan meminjamkan jaketnya ke gadis mereka.
Aku suka sekali sepatu-sepatu yang ditenteng atau diikat di tas sekolah teman-temanku.
Aku suka sekali teriakan-teriakan jijik teman-teman wanitaku karena banyak kecoa, hehehe.
Dulu aku suka hujan.
Saat aku dan saudari-saudariku berlari mengelilingi tempat bimbingan belajar kami tanpa sepatu.
Saat aku dan saudari-saudariku menari, menikmati hari bahagia itu.
Saat aku dan saudari-saudariku menggingil kedinginan tanpa jaket.
Saat aku dan saudari-saudariku berebut minta dibelikan teh panas kepada papa.
Dulu aku suka hujan.
Saat aku melihat seseorang melompat karena kecoa.
Saat aku melihat teman-teman priaku bermain bola di tengah jalan.
Saat aku melihat ponselku dan membaca pesan yang, ah, tak akan ku ceritakan padamu.
Dulu aku suka hujan.
Karena seseorang menungguku di sana.
Karena seseorang memiliki janji tentangnya denganku.
Dulu aku suka hujan.
Suka sekali.
Tapi sekarang?
Aku tidak terlalu suka hujan.
Aku tidak lagi menanti hari hujan.
Aku bahkan sedikit mengeluh ketika hari itu akhirya datang.
Aku benci aku harus melepas sepatuku dan meggantinya dengan sandal.
Aku benci aku harus jalan merapat dari kelasku ke pos satpam menunggu jemputan.
Aku benci tatapan aneh teman-teman baruku di kala aku menadahkan wajahku padanya.
Aku benci harus melintasi koridor yang tak bisa lagi ku duduki.
Aku benci ketika latihan sebauh ss harus dihenikan karenanya.
Aku benci aku harus duduk merapat saat rakor.
Aku benci baju-bajuku yang tak kunjung kering terpaku di jemuran.
Aku benci cipratannya yang mengotori rok panjang abu-abuku.
Maaf, tapi kini aku benci kamu, hujan.
Maka, kembalikan hujanku yang dulu.
Kembalikan rasa kagumku padamu beserta segala kenangan-kenangan antara aku dan kamu, hujan. Kembalikan supaya aku tak lagi membencimu.
Aku mohon, hujan.
Aku mohon.

Tuesday, April 6, 2010

Untuk Kamu yang Suka Seenaknya Sendiri

Hey kamu.
Jangan begitu, dong.
Siapa sih kamu?
Aku tahu aku memang mengagumimu, terkadang memujamu.
Tapi bukan berarti kamu bisa menggunakan alasan itu untuk mempertebal kesenanganmu, kan?
Siapa sih kamu?
Aku tahu kamu memang keren. Kata mereka kamu beken.
Tapi bukan berarti kamu bisa melakukan ini padaku, kan?
Aku tahu aku menyayangimu, dan aku pun tahu kamu mengetahui hal itu.
Lalu apa? Untukmu ini pride? Untukmu ini hiburan? Untukmu ini konsumsi batin, kepuasan yang kau nikmati detik demi detiknya?
Siapa sih kamu?
Hey kamu.
Kamu tidak bisa memiliki semuanya.
Kamu kira seluruh isi dunia ini berlutut padamu seperti aku?
Bahkan aku pun tak lagi begitu. Ini tulisan-tulisanku. Ini sahabatku.
Dan aku tahu memang ini tentang kamu.
Tapi bisa tidak sih? Sedikit saja kamu tunjukkan ketidakpedulianmu.
Kan kamu jagonya dalam hal itu.
Juara dalam hatiku.