Monday, February 23, 2009

Malaikat dan Peri (2)

Malaikat,
tetaplah malaikat,
seperti bagaimana malaikat seharusnya.
tetap menawan, tetap mempesona.

Hanya,
malaikat kini tak lagi mendambakan peri,
sebagaimana peri menyayangi malaikat di setiap kepak sayap mungilnya.


Peri,
mengemban kerinduan di kedua sayapnya,
namun sayap-sayapnya ringkih sudah lelah,
sampai akhirnya patah.

Peri pun bukan lagi peri.
sekarang ia hanya seorang gadis biasa.
Dan yang bisa ia lakukan hanyalah mencintai malaikat dengan hati,
dan ia yakin hatinya jauh lebih kuat dari sayap-sayapnya yang telah musnah.

Mungkin beginilah seharusnya dongeng ini diceritakan.
seorang jelita hadir di samping malaikat, mendampinginya.
Sang anggun itu, kulitnya berkilau bagai berlian,
istananya megah berlapis emas,
ribuan dayang-dayang mengelilinginya,
hidupnya adalah kesempurnaan.

Namun siapa ia?
Apa ia seorang ratu?
Bidadari?
Dewi?
Atau jangan-jangan ia juga malaikat?

Entahlah, aku tak tahu.
Bahkan si pendongeng pun juga tidak tahu.
Maka ia akan mencari tahu,
Dongeng ini belum mencapai akhirnya.

No comments:

Post a Comment